10 Jul 2016

KEBETULAN DAN TAKDIR

Kebetulan sekaligus keajaiban. Allah baru saja menyentilku dengan lemah namun sangat terasa. Baru sore tadi ketika menaiki motor, pohon tumbang tepat didepanku.. di depan mata. Hanya selang berapa detik sebelum aku melintas. Masih jelas teringat bunyi krek pohon dan mataku yang otomatis melihat. Untung rem tangan dan kaki otomatis merespon. Meski sempat menabarak dan jatuh namun pohon sudah tumbang sehingga aku tak apa-apa. Kalau tidak? Haha. Nggak bisa dipungkiri aku jadi merasa Allah sedang melihatku, menegurku. Kenapa pohon rubuh begitu saja saat aku lewat? Padahal sama sekali tak berangin dan pohon masih lebat.. Kenapa aku? Yang membuatku sangat terkagum-kagum adalah dari sekian detik dan menit yang berlalu .. kenapa harus saat aku lewat? Kenapa hanya selang beberapa detik? Aku semakin percaya takdir. Allah maha penyelamat. Mungkin inilah rasanya seseorang ketika diberikan kesempatan kedua .. hidup bisa berubah dalam hitungan detik . Teruntuk diriku sendiri, mari berhenti buang waktu dan lekas memanfaatkan semua kesempatan yang sudah dianugrahkan Allah. Alhamdulillah ☺

4 Mei 2016

Sekedar .. menulis keruwetan

Setalah membaca dan mempelajari banyak hal. Ternyata pikiran masih saja disibukkan oleh cinta. Mungkin saya termasuk golongan orang yang tidak bisa tenang tanpa cinta. Melankolis? Ya. Sedikit lebay. Sebenarnya bukan tanpa alasan saya tumbuh dewasa seperti ini. Banyak hal terjadi dan mengendap. Saya justru kagum dengan orang-orang seusia saya yg tidak memiliki banyak pengalaman cinta mencintai ala lelaki dan perempuan. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kuat dengan cinta yang melimpah dari keluarga. Meski tidak semua begitu.

Saya selalu berada di zona meminta perhatian dan perhatian. Saya membutuhkannya untuk mengisi cawan yang memang sudah terlanjur terbentuk. Beberapa orang mengamini dan tinggal. Bayak lagi pergi.

Seseorang tinggal cukup lama saat ini. Sudah 3 tahun berlalu. Saya nyaman. Dia nyaman. Saya bosan, dia kembali. Dia bosan, saya kembali. Setiap kali hal-hal manusiawi itu terjadi salah satu pihak akan lebih kacau dari yang satunya. Hal manusiawi itu kadang-kadang menakutkan. Dan saat ini saya khawatir akan kembali terulang. Jika dipikir-pikir mungkin saya sebenarnya malah menyelami hal ini. Dan ehm. dia belum menghubungiku sejak tadi.

23 Apr 2016

Bermimpi itu tidak mudah

Saya sudah 22 tahun dan masih sulit percaya apa saya sanggup bermimpi. Cukup memiliki target remeh semacam tugas kuliah saja kadang sering kali tak tercapai. Apalagi mimpi yg besar.
Bagi saya tidaklah sama cita-cita dengan mimpi. Karena seringnya harus menjawab apa cita" saya, seringkali juga hal itu berubah dan berubah. Memiliki cita" hanya seperti sesuatu jawaban keren agar orang lain terkesan. Contohnya saja cita" saya adalah menjadi sekjen PBB, bahkan tanpa tahu apa tugasnya atau dimana kantornya. Yg saya tahu bahwa sekjen PBB adalah orang terkeren sedunia melebihi presiden dan saya juga akan keren jika memiliki cita" demikian. Tanpa pernah mengusahakannya, sedikitpun. Itulah cita".
Lain dengan mimpi. Dia berada lebih dekat dan lebih mungkin di jangkau oleh pribadi saya. Hanya tersekat kesadaran. Saya hanya perlu mengusungnya ke dunia nyata. Perbedaan lain adalah jika cita" bisa dibangga-banggakan dan diumbar. Mimpi adalah hal yg diam" saya simpan dengan rapat, dipupuk dan rawat. Dengan harapan orang" nanti akan melihat dengan sendirinya ketika sudah tumbuh besar.
Jujur saja selama 6 tahun SD, 3 tahun SMP dan 3 tahun SMA saya terlalu sibuk dengan seabrek mata pelajaran, pergaulan dan apalah itu hingga tak ada waktu untuk bermimpi. Bagaimana bisa jika setiap guru menuntut kita memahami apa yg diajarkannya tahun demi tahun. Bahkan bertanya untuk apa saya tahu ini itupun tak sempat.
Kuliah memberi kesempatan berpikir dan belajar idealis. Mata kuliah yg sama dengan SMK membuat saya memiliki banyak waktu luang merenung. Waktu yg tercurah membuat saya memiliki kesempatan mencari pengalaman menghidupi diri sendiri. Saya belajar dan merenung. Mencari cari mimpi. Pengalaman bekerja membuat orang sadar bahwa dia cocok di bidang ini dan tidak cocok di bidang itu. Dengan menyadari hal yg sesuai untuk saya, yg sebenarnya selama ini sangat dekat dan jelas membuat keberanian bermimpi muncul. Semoga lekas muncul tunasnya.

13 Apr 2016

Poros

Apa yang paling menyakitkan bagi orang yang percaya bahwa dirinya pintar? Ketika dia dikatai bodoh? Bukan. Mungkin jika seseorang yang entah bagaimana kemampuannya dan mengatainya bodoh, dia akan marah, tidak terima dan sudah. Hal yang paling menyakitkan adalah ketika dia dihadapkan dengan seseorang ahli dan menemui kenyataan bahwa pengetahuanmu sama sekali bukan apa-apa. Hal seperti itu, ketika tahu dan dihadapkan dengan kenyataan bahwa kau bodoh adalah sangat sangat menyedihkan.

Oke this all about me. Aku merasa begitu bukan semata-mata menyimpulkan dengan begitu saja. Semua hal dari mulai smp hingga sma membuatku merasa bahwa pelajaran tidak pernah menyulitkan. Hal seperti itu yang terus menerus sepertinya membuatku beku dan tinggi hati. Aku bukan lagi gelas yang kosong. Aku selalu gelas yang penuh dan siap berdebat dan meluber kapanpun orang lain berusaha mengisiku. Hingga suatu saat di titik mana yang aku lupa, gelasku tak pernah bertambah tinggi 😦.

Ada suatu saat ketika aku terus bertanya untuk apa? Untuk apa aku tahu ini itu. Untuk apa aku paham dan memikirkan ini itu. Sehingga pemikiran itu membuatku memberontak untuk mempelajarinya. Mungkin titik ini membuatku harus mengosongkan gelas. Dan berusaha menghargai apapun yang coba di berikan orang lain padaku selama itu baik. Semoga alasan "ini tak penting untuk passionku" bisa menghilang lama kelamaan. Karena passionku membutuhkan ilmu apapun agar pemikiranku semakin luas. Semakin kontradikitif. Sebagai akhir aku akan mengakui : aku hanya orang bodoh yang membawa-bawa gelas penuh.

26 Des 2015

ILUSI (2015) REVIEW : Sebuah cerita tentang dunia mimpi anak yang berhadapan dengan pemahaman orang dewasa

Menonton Ilusi seakan ditampar oleh kenyataan yg sangat dekat tapi tak pernah kita sadari. Apa itu? Imajinasi masa kecil. Sangat menyenangkan rasanya ketika kita belum menyadari bahwa tertawa dengan khayalan yang hanya ada di kepala kita sendiri itu tidak memalukan. Merasa bisa menyelam di dalam laut tanpa harus memikirkan tabung oksigen atau terbang tanpa tau berapa harga tiket pesawat. Itulah yang sudah kita lupakan, atau mungkin lebih tepatnya yang sudah saya lupakan. Dikemas dengan jujur, film Ilusi hadir mengingatkan hal ini kepada kita, para manusia dewasa.

Lusi hidup ditengah keterbatasan tanpa sosok ayah dan ibu. Dia tumbuh bersama anak-anak lain yang kurang beruntung di sebuah panti asuhan. Namun rasa rindu terhadap kasih sayang orang tua tak membuatnya meratap dan bersedih. Lusi melewati hari-harinya dengan bahagia lewat mimpi-mimpi dan imajinasi yang dia rajut. Meski begitu, ada saja orang dewasa yang tak bisa memahaminya.

Film garapan Sito Fossy Biosa ini jauh dari kata mewah, saya masih menemukan pencahayaannya tidak sempurna, atau dialog yang kaku selayaknya film indi yang diproduksi dengan berbagai keterbatasan. Namun penggambaran imajinasi khas anak-anak sangat pas dan lagi-lagi.. jujur, membuat film ini terasa dekat ketika ditonton. Mengingatkan kita akan suatu masa ketika berada di usia Lusi.

            Melihat film ini saya menyadari suatu lingkaran setan bahwa seringkali dengan menggunakan kekuasaan orang dewasa,  anak kecil yang penuh imajinasi kemudian di tuntun bangun dari dunianya untuk menjadi "dewasa" yang kemudian membangunkan anak kecil lain dan seterusnya dan seterusnya. Padahal dengan berbekal mimpi, kita bisa hidup bahagia di tengah segala kekurangan seperti sosok Lusi, dengan bermimpi kita bisa memiliki suatu hal untuk diwujudkan sehingga tidak sekedar tumbuh dewasa dan menjadi mesin pemenuh kebutuhan yang tidak ada habisnya.

3 Des 2015

Pesona di ujung negara : Pulau Batam


Pulau Batam merupakan salah satu pulau yang berbatasan langsung dengan negara Singapura. Bulan lalu saya berkesempatan mengunjungi pulau itu dan melihat berbagai wahaya wisata yang tersedia. Salah satunya adalah pantai Costarina yang merupakan salah satu pantai indah. Selain menikmati keindahan pantai dan deburan ombaknya, disini kalian bisa menyewa sepeda dan mengelilingi lokasi. Ada kafe yang berhadapan langsung dengan laut dan panggung besar. Selamat berkunjung ..

23 Nov 2015

Cerpen

Balada Cinta Tian

Sesekali kugerak gerakkan kaki dengan kesal. Rasanya luar biasa pegal sudah, padahal jam baru menunjukkan pukul 8 malam dan itu berarti masih dua jam lagi aku harus berdiri sambil memasang tampang anggun dan tersenyum ramah. Sial!

Yap sudah 13 hari kuhitung semenjak memutuskan magang sepagai SPG event di mall terbesar di kotaku. Meski sudah hampir dua minggu tapi aku masih juga belum terbiasa dengan pekerjaan ini, belum nyaman, masih begah. Dan masih setengah sembilan. Sial!

Mall bukannya makin sepi tapi malah tambah sesak. Orang - orang borjuis itu, yang bisa menghabiskan 1 juta hanya untuk membeli celana dalam tersenyum riang dengan teman segengnya berjalan kesana kemari menghamburkan uang. Bukannya sinis, aku hanya sedang pegal, kalau suasana hatiku baik maka baik hatilah aku. Nah itu ada pelanggan datang.

“Mari silahkan” sapaku dengan senyum manis yang tulus.
“Mari silahkan bonus” mantraku dalam hati.

~~

Malam sudah larut, meski begitu kuputuskan untuk mampir ke rumahnya. Lampu masih menyala terang benderang meski kebanyakan rumah tetangga kiri kanan sudah gelap. Dia duduk di ruang tengah sedang fokus bermain game di monitor, sambil lalu menyapaku datang.

“Hai, sudah pulang?”
“Hm ..” sapaku asal sambil menghapus make up di wajah. Kurebahkan sebentar tubuh di sofa, kesal.

Beberapa saat berlalu.
“Aku pulang saja” kataku sambil mengambil tasku dengan kasar dan langsung beranjak keluar ruangan. Untungnya dia menyusulku.
“Kenapa? Kenapa buru - buru?”
“Aku capek” kulepaskan tangannya dengan kasar. Kulirik jam tangan, sudah pukul 11 malam.
“Kenapa pulang buru - buru? Kamu marah?”
“Aku capek” jawabku asal sambil menghidupkan motor. Wajahnya mulai panik. Tapi kemudian motor kunyalakan dan berlalu. Meninggalkannya mematung. Dia mengirimku beberapa pesan tanda dia mengkhawatirkan aku. Dan aku yang lelah, memilih tidur.

~~

Waktu menunjukkan pukul 7 pagi ketika aku bangun. Dengan setangah hati lekas bersiap mandi dan make up. Hari ini perjuangan terakhir akan kulakukan. Hari ke 21 dan semuanya akan kembali normal. Aku akan bisa dengan tenang melanjutkan kuliah dan menunggu gaji turun. Senyumku akhirnya bisa sedikit merekah. Kamar sepanjang rumah kos sepi. Kebanyakan penghuninya sudah berangkat kuliah meski beberapa masih sibuk dengan bantalnya.

Kantor sudah ramai dengan aktivitas masing - masing. Kurapikan make up ku dalam diam sambil sesekali memainkan handphone. Tian masih belum menghubungiku setelah semalam. Kuduga dia masih tertidur. Segera ku songsong hari. Dengan harapan agar segera usai.

Beberapa kenalan selama masa kerjaku yg singkat ini sudah hadir. Kupijakkan kaki dengan kuat. Bersiap berdiri selama 7 jam kedepan. Sambil memasang senyum.

“Mari silahkan”
“Semoga hari ini lekas berlalu” doaku dalam hati.

~~

Kulirik jam tangan sambil menata barang - barang dalam karung besar. Sudah jam 11.30 dan masih harus mengangkut berkarung - karung barang dalam gudang. Sial!

Yap hari ini usai sudah segala penyiksaan kaki sebagai SPG. Event yang hanya berjalan 3 minggu serasa sudah kujalani bertahun - tahun. Bahkan aku sudah lupa berapa pertemuan kuliah yang kulewatkan demi mencari sesuap uang makan ini.

“Hei Ta. Ayo .. Ngelamun aja”

Aku terkaget dan segera merampungkan pekerjaan ini. Membawa semua barang bazar ke dalam gudang. Hanya berdua dengan partner yg cerewet dan sok senior. Berjalan sambil menyeret berkarung karung pakain keluar masuk mall. Sial! Kenapa para lelaki itu cuma melihat sambil melongo.

Rasanya persendian sudah rontok. Hak sepatu juga sudah hampir patah. Ah setidaknya besok aku tak usah kesini lagi. Ku turuni tangga sambil memainkan handphone. Berharap Tian sudah menghubungiku lagi setelah semalam kuabaikan. Beberapa sms muncul dan satu panggilan tak terjawab. Semua dari Tian. Aku tersenyum lega dan langsung menuju ke rumahnya.

“Hei kau sudah datang” ujarnya menyambutku sambil tersenyum.
Kujawab dengan senyuman dan lekas merebahkan diri di kursi tamu.
“Sayang .. Dimana cincinmu?” perlahan dia duduk di sampingku. Memijit pelan telapak kaki.
“Ada di dalam tas. Aku lupa belum memakainya lagi setelah kerja”
Dia menganguk mengerti. Memang sudah kujelaskan jika aku tak boleh memakai perhiasaan saat bekerja.
“Mamahmu sudah tidur?
“Iya. Lagipula ini kan sudah jam 12 lewat. Mama jam 10 juga pasti sudah tidur”
Aku tersenyum menanggapinya.
“Ayo makan”
“Apa kau memasak?”
“Ah tidak. Maksudku makan diluar. Kamu pasti lapar sehabis kerja”

Aku mengiyakan dan kami bergegas
Sepanjang jalan di dekat rumahnya memang masih ada beberapa pedagang yang menggelar warung tenda. Makananya juga bermacam - macam. Kami berhenti di warung nasi goreng terdekat dan segera memesan. Sambil menunggu aku melihat dia memainkan handphone aku. Aku terdiam sambil menatap lalu lalang.
Beberapa saat dia memecah keheningan.

“Sayang .. Aku minta maaf soal kemarin”
“ Minta maaf untuk apa?” kutatap matanya dalam dalam
“Karena udah bikin kamu marah”
“Jadi nenurutmu kenapa aku marah?”
Dia terdiam. Kujawab dengan tarikan nafas kesal. Dia memang baru menyadari segala sesuatunya jika aku sudah marah. Kami sama” diam hingga pesanan datang.
“Ini hari terakhirku kerja”
Dia tersenyum menatapku. “Syukurlah. Lalu kapan akan menerima gaji?”
“Masih lama. Mungkin bulan depan.”
Dia menganguk dan meneruskan makan.
“Kau benar” kaya ya bulan ini. Honormu menang lomba menulis kemarin juga akan cair bulan ini kan”
Aku menganguk. “Meski aku sangat menyesal mengambil pekerjaan freelance SPG kali ini. Lain kali tak akan kuterima”
“Betul juga. Kasian kamu. Apalagi kuliah jadi terabaikan”.
“Habisnya kamu nggak mau kerja” jawabku asal.
Dia hanya memamerkan senyumannya sebagai jawaban. Dasar
Kami makan dalam diam hingga usai. Ku nikmati makanan sambil memandang lalu lalang jalan.
“Sayang .. Sudah?”
Aku mengangguk. Dia membuat isyarat melihat ke kasir.
“Cowok ini!” keluhku dalam hati. Dan bergegas ke kasir dengan menahan kesal. Jam sudah menujukkan pukul 1 dinihari.

Kami meninggalkan warung tenda dalm diam. jalanan sudah lengang. Hanya sesekali kendaraan lewat memecah keheningan.
“Sayang?”
Aku diam saja. Masih kesal karena harus membayar.
“Kamu kenapa? Marah lagi?”
Aku masih membisu.
“Sayang kamu kenapa? Aku minta maaf kalau aku salah”
Aku berhenti melangkah.
“Kamu salah apa?”
Dia memibisu.
“Kamu salah apa? Kenapa minta maaf? Jangan minta maaf kalau kamu nggak tau salahmu apa.” jawabku kesal. Meski masih menahan nada suara.
“Karena kamu yg bayar ya?”
Aku diam saja. Kembali berjalan.
“Kan memang aku tadi cuma nemenin kamu. Wajar dong kamu yg bayar. Lagipula kamu tau aku nggak punya uang”
Aku berjalan makin cepat. Sambil berusaha menyeka air mata. Kami sudah sampai di depan rumahnya.
“Sayang maafin aku”
“Aku mau pulang” ucapku
Dia berdiri di depan motorku, menghadang.
“Kamu kenapa nanngis? Kamu nggak boleh pulang kayak gini”
“Aku capek. Aku mau pulang” sahutku semakin kesal. Rasa lelah yang seharian kutahan menumpuk selama hampir 3 minggu bekerja ditambah kekesalan sikapnya benar - benar membuat frustasi.

Dia kemudian menunduk dan menyingkir perlahan. Kunyalakan motorku dan bergegas menghilang. Padahal sudah dini hari. Dia bahkan tak berniat sama sekali mengantarku. Air mataku semakin deras. Mengalir seiring terpaan angin pagi buta.

~~

Dia mengirmiku banya pesan keesokan harinya. Dengan enggan kuabaikan saja semuanya dan bergegas menuju kampus. Hari ini aku akan memulai ritinitas normalku menjadi penimba ilmu. Dan dia sudah menunggu tepat di depan kelas. Dengan wajah sendunya.

“Hari ini kita akan praktik merekam di outdoor. Sayang, kamu sama aku ya?”

Aku terbengong dan hanya melongok ke dalam kelas. Teman – teman lain sudah bersiap hendak meninggalkan kelas untuk praktikum di lapangan. Ku baca pengumuman sekilas dan langsung mengiyakan tawaran Tian. Memangnya akan dengan siapa lagi aku berkelompok sedangkan sudah 3 minggu aku tak mengikuti kelas teori.

Kami berdua akhirnya bergabung dengan satu kelompok lain dan berangkat berempat ke lokasi yg sudah kami sepakati. Di pantai yg sekitar 1 jam perjalana. Kami sepakat akan mengerjakan tugas sambil bermain meski itu artinya aku harus menahan rasa marahku ke Tian. Dia hanya senyum - senyum senang melihat aku yang tak bisa berkutik dengan kemarahanku.

Dengan terburu - buru kami mengerjakan tugas agar masih banyak waktu untuk bermain di pantai. Langit nampak mendung menggantung. Sedikit menyeramkan namun menguntungkan karena cuaca tak begitu panas.
Tian mengajakku bermain air. Namun belum sampai kami di air dangkal. Hujan mengguyur. Yap! Hujan mengguyur. Sontak kami lari kocar - kacir mencari tempat berteduh. Aku terpaksa basah kuyup mengorbankan jaket yg kukenakan untuk menutupi kamera. Sampai di tempat berteduh serupa bungalo yang sudah ramai digunakan orang lain juga sebagai tempat berteduh.

“Sayang bajumu basah kuyup” Tian berseru mengagetkan.
“Iya aku tau” sambil berusaha membersihkan pasir yang menempel. Aku melihat kesekitar. Banyak orang yang menjual kaos oblong dengan harga sangat murah. Aku mulai berpikir untuk membelinya. Kurogoh tasku mencari dompet.
“Sayang. Aku nggak bawa dompet” seru ku kesal. Tian yang terkejut ikut mencari ke dalam tasku.
“Aku bawa kok sayang. Kamu memangnya mau beli apa?” katanya santai sambil mengayunkan dompetnya di depanku.
“Kamu bawa uang banyak?” tanyaku spontan.
Di dalamnya hanya berisi 3 lembar 5 ribuan. Aku tertawa melihatnya.
“Memangnya pernah kamu bawa uang banyak.” Seruku sambil menahan tawa.
Tian hanya ikut tertawa kecil “Memangnya kamu mau beli apa sayang?”
“Kamu tak lihat bajuku basah kuyip behini. Tentu saja membeli baju”
Tian mengangguk dan menyerahkan dompetnya kepadaku. Aku langsung mengembalikannya.
“Uangmu akan habis kalau kubelikan baju. Nanti kalau butuh apa - apa kita tak bisa membelinya”.
Tian diam saja dan meberikan jaketnya yang masih setengah kering kepadaku. Aku memakainya sambil menahan dingin. Kami membeku bersama hujan sore itu.
Dan tau - tau dia membawa minuman bersoda. Aku bertanya pelan kepadanya.
“Tian kamu dapet dari mana itu? Yang kamu minum?”
Tian memandangku. “Aku membelinya. Kamu mau?”
“Kamu lupa aku nggak bisa minum soda?”
Tian tertegun. Aku mulai tak bisa menahan ekspresi kecewaku.
“Tian aku kedinginan dan kamu malah memilih beliin uangmu buat nyenengin diri kamu sendiri?”
Tian mulai paham jika gelagatku akan marah.
“Sayang .. Em ..”
Aku mulai terduduk sambil memeluk lutut. Berusaha menahan agar isakanku tak terdengar orang lain. Duh kekasih macam apa yang kupunya ini. Aku meratapinya terus menerus dalam hati. Tian berusaha membujukku untuk tenang. Namun aku tak menggubrisnya. Aku lelah dengan semua kelakuan konyolnya ini. Muak!
“Sayang ini pakailah” Tau – tau Tian sudah menyodorkan pakaian baru dalam plastik ke depanku.
“Ha?” aku masih bingung.
“Ini pakai dan jangan nangis lagi”
“Tapi kamu dapat uangnya dari mana?”
“Aku pinjam ke Ratna. Besok biar ku ganti” jawabnya sambil tersenyum. Manis.. Manis sekali ..

~~

Kami mungkin masih pasangan bau kencur yg sudah bertunangan. Tian mungkin hanya cowok cengeng yg belum minat kerja. Dan aku hanya lebih cepat dewasa ketimbang dia. Tapi kami saling mencintai dengan semua konflik keseharian. Suatu saat nanti mungkin Tian akan menjadi dewasa dan sedikit sedikit mulai mengerti bagaimana cara berkomunikasi dengan wanita, khusunya wanita macam aku. Kami akan belajar. Aku akan belajar bekerja dan kemudian mengajarinya bekerja. Aku akan menjadi penyabar sebagaimana Tian terus mengajariku. Dengan cinta masalah uang akan sedikit demi sedikit kami urai. Karena kami tidak memilih antara cinta atau uang. Kami menyeimbangkannya.

“Sayang lain kali kalau kamu ingin sesuatu, bilang langsung aja ya!” aku tertawa lepas sebagai jawabanya.

TAMAT







Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen "Pilih Mana : Cinta atau Uang?" #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh CekAja.com dan NulisBuku.com


10 Des 2014

Minority


            Pernahkah kita mendengar tentang satu tulisan brilian, karya sastra brilian dari para penyandang disability? Adakah satu saja karya besar mereka di bidang seni entah tari tarian, nyanyian, naskah atau apapun di dengungkan masa serentak, di agung agungkan, atau setidaknya di apresiasi entah itu positif ataupun negatif? Bagi saya mahluk awam yang sedikit sekali akses dengan dunia yang terlanjur dikotakkan untuk mereka, tentu tidak. Tak pernah sekalipun. Ada beberapa penyandang cacat yang sering muncul dalam buku tokoh tokoh besar, tapi itu dulu sekali, sudah lama sekali sejak mereka meninggal. Di jaman sekarang ini, yang globalisasi sudah digembor gemborkan, internasionalisasi dimana dimana, tertinggal dimana suara para penyandang cacat? Apakah mereka memang tak sanggup membuat karya? Menciptakan karya seni? Jawabannya tentu saja tidak begitu. Mereka tentu bisa menciptakan sebuah karya. Lalu mengapa jarang sekali ada yang muncul di permukaan? 1:1000
             Dengan cara para pandang yang berbeda, dengan berada di kotak berbeda, sangat mungkin pengalaman hidup mereka lebih luar biasa, lebih tidak biasa dari orang orang normal kebanyakan. Yang hidup nyaman dalam kotak bernama mayoritas. Mereka, oh sudahlah sungguh tak nyaman menyebut para disability dengan mereka. Aku akan masuk dalam kotak disability. Bukankah saya juga punya cacat sana sini. Cacat fisik, cacat mental. Tak ada manusia yang tidak cacat. Kenapa saya dengan lancangnya bilang begitu? Karena para agamawan, sering sekali bilang. Tidak ada manusia yang sempurna, itu berarti tidak ada manusia yang tidak punya cacat. Saya juga masuk dalam kotak minoritas, kaum disability. Silahkan tetap dalam kotak anda jika tidak setuju, saya hanya penulis, jauh dari hak memaksa. Hanya pemerintah yang berhak memaksa, memaksakan harga BBM naik, memaksakan rakyat miskin semakin miskin. Hanya pemerintah yang berhak, dan sudahlah, cabang ini tak seharusnya di bahas disini.
               Dalam kotak yang berbeda, kami memiliki kesempatan besar untuk menciptakan suatu karya dengan sudut pandang berbeda. Dalam hal ini karena saya penulis, kami memiliki kemungkinan besar menciptakan tulisan dengan sudut pandang berbeda. Yang akan memperluas cakrawala sastra di dunia. Baiklah, tak nyaman juga membuat diri sendiri mewakili kaum disabilty, padahal tak pernah sejengkalpun saya masuk di dunia mereka kecuali lewat film film yang diciptakan oleh sudut pandang orang orang di kotak mayoritas. Tak adil buat kaum disability, tak pantas buat saya. Maka selanjutnya saya akan berada di luar kotak, pihak ketiga. Semoga bisa tepat berada ditengah kedua kotak.



             Penyandang cacat tak pernah minta dilahirkan secara cacat, semua manusia ingin diciptakan sempurna, karena itulah tak ada satupun yang sempurna. Karena kesempurnaan sudah cukup hanya menjadi keinginan. Beberapa manusia diciptakan istimewa, berbeda dengan manusia lain yang menyebut diri mereka normal. Dan yang berbeda masuk dalam kotak minoritas. Parahnya, karena keterbatasan mereka, karena keberbedaan mereka, karena sedikitnya jumlah mereka, mereka kesulitan, para disability kesulitas mengungkapkan pendapat.

              Karena kebiasaan dari kecil, sejak dini berada di kotak yang berbeda, membuat orang orang dari kedua kotak saling asing satu sama lain. Para mayoritas yang adalah orang orang normal memandang asing setiap kali ada penyandang disability disekitarnya. Hal ini terlihat jelas ketika suatu media massa entah itu radio, tv atau bermacam media cetak sedang mengekspos tayangan tentang penyandang disability maka program itu akan menjadi hal menarik bagi kaum awam. Program yang seyogyanya mengangkat bagaimana kehidupan dan keterbatasan akses mereka dengan dunia luar, yang seyogyanya mendapat simpati masyarakat dan menyadarkan untuk membenahi sana sini tak ayal hanya menjadi tontonan menarik, sudah berhenti sampai disitu saja tanpa aksi yang berarti. Ini tidak sepenuhnya salah karena memang para penyandang disability asing bagi mereka.
              Lalu siapa yang salah? Apa yang salah? Sehingga patut segera ditangani dan dibenahi meski prosesnya tentu tak secara instan. Sistem, mari pecahkan kotaknya. Mari berbaur. Mari saling bersama sama dan melihat satu sama lain di semua sistem kehidupan. Pendidikan, kesehatan, pekerjaan, informasi.
              Dimulai dari hal kecil saja, dari diri sendiri. Bahkan saya mungkin bisa memulai dari diri sendiri yang pada kenyataannya memang tak pernah berdekatan langsung dengan mereka. Mari mulai dengan peka terhadap lingkungan sosial. Apa yang salah? Dimana kotak kotak disability disimpan dalam masyarakat sekitar saya? Dan mulai mendekat, mengenal, berbaur dengan mereka. Untuk yang berprofesi, apapun itu. Mari merangkul mereka. Jika anda bos maka bisa mulai merekrut karyawan profesional yang tak harus menjadi normal. Jika kalian penulis, ajak para penyandang disability untuk mulai menulis dan membantu mengangkat karyanya kepermukaan. Jika anda mahasiswa maka bantu buka kesempatan bagi para disability untuk bisa masuk ke perguruan tinggi anda. Apapun profesi anda, siapapun anda. Mari bantu pecahkan kotaknya.
                Penyandang cacat bukan bebarti tak memiliki potensi, bantu dunia mendengar suara mereka, bantu dunia melihat mereka, lama kelamaan dunia akan mengakui mereka. Hal seaneh apapun, jika sudah terbiasa akan menjadi biasa. Dengan terbiasa bersentuhan, berinteraksi dengan para penyandang disability, dengan sering menemui mereka di segala bidang maka orang orang normal, kotak mayoritas akan terbiasa. Tidak akan merasa asing lagi dengan keberadaan mereka, anak anak akan berhenti mengejek para penyandang cacat yang berarti mengajarkan mereka untuk menghargai perbedaan, menerima kekurangan dan mengakui kelebihan orang lain. Hal hal seperti itu tentu tak pernah didapat dari bangku kaku pendidikan kita. Dengan menerima mereka, mencoba mengenal para penyadang disability, dengan menghancurkan kotak, dengan tidak lagi mengkotak kotakkan pendidikan mereka, akses umum mereka, akses kesehatan mereka, akan membuat semua hal lebih mudah bagi penyandang disablity. Dan akan mengajarkan banyak hal bagi mereka kaum mayoritas. Dengan menghancurkan kotak, tak akan ada lagi diskriminasi. Semua orang berbeda, maka mari menghargai perbedaan masing masing. Sulit memang tapi bukan berarti mustahil.

14 Nov 2014

PENYUNTINGAN DIGITAL II :v

Setelah berabad abad tidak menulis, muncul kembali dengan membawa . . .  jeng jeng jeng .....
TUGAS KAMPUS :v

Ini dia :)

Pengertian Opening Scene dari berbagai sumber : (masih sebagian)

1.


opening scene adalah

opening scene adalah , arti opening scene


Maksud definisi dari opening scene pada dunia broadcast. pengertian arti kata dari opening scene adalah. untuk melihat arti opening scene bisa anda lihat di tabel berikut ini.

Subjek
Pengertian opening scene adalah
Broadcast
Opening Scene : Adegan yang dirancang khusus untuk membuka acara atau cerita. Biasanya adegan ini dikemas kreatif dan menarik untuk mendpatkan perhatian penonton.





2.


Opening Scene : Adegan yang dirancang khusus untuk membuka acara atau cerita. Biasanya adegan ini dikemas kreatif dan menarik untuk mendpatkan perhatian penonton.



2 Nov 2012

26 Sep 2012

Belive in Love

Nyata atau tidak, kenyataan bahwa belum 100 % aku percaya akan Cintamu itu benar dan hampir selalu membayangiku. Kekhawatiran akan kesalahpahaman memahami perasaanmu sendiri. Mungkin aku merasa terlalu sensitif, merasa mengerti hampir semua yang dirasakan orang-orang disekitarku. Tapi diakui atau tidak, seringkali fikiran bahwa sebenarnya kau mencintai orang lain, bahwa dalam hati kecilmu, cintamu bukan milikku. Bahwa mencintaiku hanyalah sekedar tanggung jawab. Bahwa setia adalah sebuah beban. Aku berharap itu semua tidak benar. Ya tentu saja, karena cintaku nyata. Bahwa aku bahagia bersamamu.

XM

7 Sep 2012

Ke_TIDAK_pastian

Beberapa orang masuk dalam katagori orang-orang tak menyukai "ketidak pastian". Mungkin aku juga, karena sekarang aku tak nyaman berada disini. Dalam ketidak pastian yang kau ciptakan. tak mengapa, toh jika kepastian itu datang, belum tentu menghasilkan kebahagiaan yang nyata. Bahkan sangat mungkin malah menghancurkan. Karena saat ini ketidakpastian lah yang pantas untuk kita.

4 Sep 2012

03:00
aku resmi tidak tidur semalaman, dan tidak ada yang merasa bersalah?? yah tentu saja tidak, karena penyebabnya belum tentu membaca post ini. aku tak tau kenapa perasaan bisa begitu sangat abstrak.

I can't sleep,,, just can't sleep because you

aku fikir semua cinta adalah hal yang sama, yang dirasakan semua orang. dan membuat kebersamaan menjadi mungkin. tapi aku menemukan hal lain dari mu. kau membuatnya begitu rumit, sangat sangat rumit mungkin untuk ukuran IQ ku. sejak dulu aku memang sering menemui bahwa aku tak pernah mampu mempercayai siapapun yang berbicara cinta padaku. pertanyaan buruk selalu menyertainya.
apakah dia berbicara dari hatinya? apa dia hanya ingin memermainkanku? mencampakkanku ketika berhasil membuatku menyukainya. atau dia hanya bermain dan mencoba mendapatkan semua cinta? seberapa lama cintanya akan bertahan?

yah mungkin buruk memiliki begitu banyak fikiran negatif bahkan sebelum jadian. tapi inilah aku, dan kekuranganku. semuanya mengekangku dan lebih sering berakhir dengan penyesalan. entah mengapa pertanyaan-pertanyaan bodoh itu semakin meluas berlaku untukmu. begitu banyak hal negatif yang akan terjadi jika kami bisa bersama. anehnya semua itu tak lantas meyurutkan rasa "suka"ku padamu.

entahlah mungkin aku memang kau permainkan, mungkin kau memang tak pernah benar-benar menyukaiku. tapi siapa peduli? karena perasaanku murni dan tak mengharapkan respon apapun darimu.

4 September 2012

1 Sep 2012

LINK LINK LINK


Aku kira kita tak akan seperti ini, berpisah, pudar dan menghilang. Aku kira cinta yang tertanam akan cukup untuk mengikat kita. Mungkin memang terlalu sederhan untuk sebuah cinta. Mungkin selama ini bukan cinta yang kita rasakan. Aku tak mengerti. Tapi aku percaya cinta tak akan senaif kita, serapuh dan juga sebodoh kita. Mungkin setelah luka ini benar-benar telah sembuh aku baru akan menemukan cinta yang sebenarnya. Cinta yang datang lewat tiupan angin. Cinta yang sejuk. Cinta yang tak akan menuntut apapun. Tak juga ciuman. 

ini sebagian dari tugas,, ada iseng iseng surat yang kurang lebih seperti postingan kali ini tapi di dubbing,, bisa di download disini





Labels

Popular Posts

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.